Buku ini adalah penelusuran jurnalistik atas sosok Douwes Dekker, pria berdarah Belanda, Prancis, Jerman dan Jawa yang semangatnya lebih menggelora daripada penduduk bumiputra. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara, ia adalah Tiga Serangkai yang kemudian membentuk partai politik pertama di Indonesia: Indische Partij. Douwes Dekker pada awalnya sangat menginspirasi gerakan revo…
Bertahun-tahun orang mengenalnya sebagai "si jahat". lelaki gugub berwajah dingin dengan bibir yang selalu berlumur asap rokok. Dialah Dipa Nusantara Aidit yang dikenal melalui film Pengkhianatan G-30-s/PKI. Di layar perak kita ngeri membayangkan sosoknya, lelaki penuh msulihat, demgam bibir bergetar memerintahkan pembunuhan massal 1965. Siapakah Aidit ? Memimpin PKI pada usia 31, ia hanya p…
Ia berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis serta piawai bermain biola dan saksofon. Ia menikmati musik simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu "pro-rakyat". Ia menghapus The Old Man and the Sea film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak menganggap yan…
Empat puluh tahun sejak meninggal, wajah dan nama Sukarno tetap dikenang oleh bangsa Indonesia dan dunia. Ia tetap menjadi simbol revolusi Indonesia sepantaran Che Ghuevara bagi Kuba. Foto-foto masih mudah ditemui dari dalam pigura rumah sampai ke halaman Facebook. Buku ini berisi reportase Majalah Mingguan TEMPO mengenai kehidupan Sukarno. Tidak saja pemikiran, buku ini membahas petualangan, h…
"Man wijf!" begitu Sutan Sjahrir kepada Sukarno karena tak bernyali memproklamasikan kemerdekaan Indonesia segera setelah berita kekalahan Jepang beredar. Sjahrir ialah salah seorang yang paling keras mendesak Sukarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945. Sjahrir termasuk Bapak Bangsa yang radikal, namun tidak suka melawan musuh dengan kekerasan. Sjahrir perc…
Sekiranya masih hidup dan diminta memerikan situasi Republik Indonesia di awal abad ke-21, Mohammad Hatta hanya perlu mencetak-ulang tulisannya yang pernah terbit pada 1962: "Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya.... Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah." Buku ini memapark…